DISWAYLAMPUNG.ID – Pelaksanaan pembangunan dan rehabilitasi gedung di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Desa Suka Maju, Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara disoal. Sebab, tidak sesuai dengan peraturan.
Seperti tak memakai alat pelindung diri (APD), juga pengawas tidak berada ditempat. Itu berdasarkan pemantauan dilapangan, Jumat, 19 September 2025, tampak beberapa pekerja tidak mengenakan APD sebagaimana mestinya. Meski pelaksanaan proyek itu termasuk dalam rehab besar.
Sebab, harus membongkar atap, dan menggantinya dengan rangka baja. Sehingga cukup rawan terjadi kecelakaan, seperti bekas cabutan paku, potongan besi dan lainnya. Namun para pekerja tetap melakukan pekerjaan, tanpa mengunakan alat pengaman diri (APD).
Selain itu, juga dibuatkan pelataran yang kelak akan dipasang dengan genteng metal. Dari pengakuan perwakilan pelaksana, yakni Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP).
Yang menggunakan tiang dengan galian cor dibawahnya.”Saya disini bekerja juga bang, kebetulan pak Samingan (pelaksana) itu memberi amanah untuk mengawasi disini,” ujar Perwakilan P2SP SLBN Suka Maju, Bekti.
Dia mengaku tak mengetahui apa – apa mengenai pekerjaan tersebut. Sehingga tidak dapat memberikan penjelasan rinci, tugasnya hanya mengkoordinir pekerja dan memantau pekerjaan.”Bila ada kebutuhan, seperti material kurang dan lainnya itu kita yang handle. Tapi kalau untuk lebih jelas coba langsung dengan kepala sekolah,” terangnya.
Meski, dalam penjelasan APD telah disediakan sebelumnya. Walau pada kenyataannya dilapangan itu hanya tampak helm 2 -3 buah dan beberapa helai rompi yang dipakai pekerja. Selain itu, tidak ada.”Kalau kami bang sistemnya kerja harian, itu satu paket tukang dan kenek Rp200 ribu/ hari. Untuk peralatan keamanan (APD), seperti helm dipakai saat mengerjakan bagian atas,” timpal salah seorang pekerja.
Saat ditanya konsultan, para pekerja mengaku tidak pernah melihat. Apalagi mengetahui keberadaannya sampai dengan pekerjaan 20 hari dilaksanakan saat ini.
Hanya saja, dalam pantauan itu pekerja memakai helm tanpa sepatu bot dan perlengkapan dianjurkan lainnya. Sehingga cukup memprihatinkan, mereka hanya memakai sandal, baju dan topi seadanya untuk menutupi kepala dari terik matahari.
Sementara perlengkapan, itu tidak ada. Dari papan informasi yang dipasang se-adanya itu bernama “Pekerjaan Aksibilitasi”, dengan nilai Rp1,043 miliar lebih yang berasal dari APBN 2025. Yang meliputi, pembangunan kantin (1), rehabilitasi ruang kelas A (3); kelas b (2); kelas C (2); adminitrasi (1).
Belakangan diketahui ketua panitia (P2SP), Samingan dan kepala sekolah, Munir. Namun saat ditanyakan kepada guru disana, mereka mengatakan sedang berada di Jakarta.”Bapak enggak ada mas disekolah, dia sedang di Jakarta,” tambah salah seorang guru.
Awak media coba menghubungi kepala sekolah maupun ketua panitia (P2SP), namun sampai dengan saat belum dapat dihubungi. (Ags)




