Peresmian Padepokan Perguruan Paku Banten Indonesia: Melestarikan Warisan Pencak Silat dan Debus

DISWAYLAMPUNG.ID — Sebuah langkah besar dalam pelestarian seni bela diri tradisional terjadi di Bandar Lampung dengan diresmikannya Padepokan Perguruan Paku Banten Indonesia.

Acara peresmian ini tidak hanya menjadi simbol kelanjutan warisan budaya, tetapi juga menjadi ajang Gelar Seni Pencak Silat yang mempertemukan puluhan perguruan dari berbagai wilayah.

Peresmian padepokan dilakukan langsung oleh Ketua Majelis Besar Perguruan Paku Banten Indonesia Hi. Hendra Mukri, dengan didampingi oleh Ibunda Hj. Maimunah Mukri serta para ketua perguruan silat di Bandar Lampung.

Pendirian padepokan ini merupakan inisiatif dari Muhammad Fahri Mukri, yang akrab disapa Kang Fahri, sebagai bentuk penghormatan terhadap peninggalan seni bela diri yang diwariskan oleh mendiang Abah Hi. Mukri MZ.

Menurutnya penyelenggara, padepokan ini didirikan sebagai tempat latihan bagi para pesilat dari berbagai aliran, sekaligus menjadi wadah untuk menjaga kelestarian warisan seni bela diri yang telah ada sejak lama.

Diharapkan, dengan adanya tempat ini, generasi muda bisa lebih mengenal dan mencintai seni tradisional yang sarat akan nilai budaya dan filosofi kehidupan.

“Diresmikannya padepokan ini merupakan langkah penting dalam meneruskan warisan seni tradisi serta menjadi tempat latihan bagi pendekar, jawara, anggota, dan generasi muda penerus agar budaya leluhur tetap lestari,”ujar Kang Fahri dalam sambutannya, Selasa (27/5/2025).

Acara peresmian mendapatkan antusiasme tinggi dari para pendekar dan jawara Pencak Silat. Tercatat sebanyak 50 perguruan silat hadir dalam acara tersebut, dengan lebih dari 500 peserta yang ikut serta dalam rangkaian kegiatan malam itu.

Keberadaan padepokan ini disambut baik oleh komunitas pesilat karena dinilai sebagai bentuk perhatian terhadap perkembangan seni bela diri tradisional di Indonesia.

“Kami berharap dengan adanya padepokan ini, masyarakat semakin mengenal seni bela diri Silat serta Debus Kebudayaan Banten. Padepokan ini terbuka bagi siapa saja yang ingin berlatih, dengan berbagai aliran seperti Cimande, Terumbu, Bandrong, dan lain-lain,” katanya.

Sebagai wadah bagi berbagai perguruan, Perguruan Paku Banten Indonesia membuka pintunya bagi semua orang tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang.

Seni bela diri silat yang berkembang di berbagai daerah, seperti Cimande, Terumbu, Bandrong, dan aliran lainnya, dapat dipelajari dan dikembangkan di padepokan ini.

Dengan adanya latihan rutin, para pesilat diharapkan bisa meningkatkan kemampuan serta membangun hubungan yang lebih erat antar perguruan.

Dalam sambutannya, Ketua Majelis Besar Perguruan Paku Banten Indonesia menyampaikan pentingnya menjaga tradisi dan memperkuat hubungan antara sesama pesilat.

Ia menekankan bahwa padepokan ini bukan hanya sekadar tempat latihan, tetapi juga sebagai wadah bagi para pendekar untuk terus belajar dan berbagi ilmu dengan sesama. Dengan demikian, padepokan ini diharapkan dapat memperkuat nilai-nilai persaudaraan di dalam dunia Pencak Silat.

Selain aspek pelatihan, padepokan ini juga memiliki tujuan sebagai pusat edukasi bagi masyarakat mengenai seni bela diri tradisional.

Seni Pencak Silat dan Debus bukan hanya soal keterampilan bertarung, tetapi juga mengenai ketahanan mental, disiplin, serta filosofi kehidupan yang telah diwariskan oleh para leluhur.

“Oleh karena itu, masyarakat yang tertarik dapat datang dan menyaksikan langsung berbagai latihan yang dilakukan secara rutin,” ujarnya.

Salah satu momen yang paling menarik dalam acara tersebut adalah penampilan para pesilat dari berbagai perguruan. Mereka menunjukkan jurus-jurus khas yang telah diwariskan secara turun-temurun, dengan gerakan yang penuh tenaga dan presisi. Para hadirin dibuat kagum dengan kemampuan yang dipamerkan dalam pertunjukan ini.

Sebagai penutup, acara semakin spektakuler dengan atraksi Debus yang dipimpin oleh Kang Fahri Mukri. Dalam pertunjukan ini, ia memperlihatkan berbagai aksi luar biasa, seperti permainan golok, paku, pecahan kaca beling, serta interaksi dengan ular cobra.

Penonton terpukau menyaksikan keberanian dan ketangguhan yang diperlihatkan dalam atraksi tersebut.

Dengan diresmikannya padepokan ini, diharapkan seni bela diri tradisional semakin berkembang dan dikenal luas oleh masyarakat.

Selain itu, keberadaan padepokan ini menjadi bukti nyata bahwa generasi penerus masih berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan budaya leluhur, sehingga seni Pencak Silat dan Debus tetap hidup dan berkembang di masa mendatang. (*)

Related posts