Oleh: Kokok Herdhianto Dirgantoro
Sabtu 12-07-2025
(ILUSTRASI Kok tega. Gerutuan saya mengenai frasa ”kok tega” berubah menjadi rasa syukur. Tak banyak orang seperti Dahlan Iskan, sebagai CEO, yang memberikan tugas secara langsung kepada staf. -Arya-Harian Disway )
KIRA-KIRA bulan maret 2001, sebuah telepon masuk ke ponsel saya. Nomor tidak saya kenal. ”Kok, kamu tahu ada semacam tren menjadikan purnawirawan tentara berpangkat bintang sebagai komisaris perusahaan. Cari dan wawancara! Itu karena skill atau mau memanfaatkannya jadi beking bisnis,” ujar penelepon yang tidak saya kenal.
Saya membalas, ”Ini siapa?” Tentunya dengan nada ketus. Muncul suara balasan dari ujung telepon, ”Ini Dahlan. Pak Dahlan Iskan.” Singkat, padat, memunculkan anxiety.
Saya baru saja parkir motor saat itu. Menuju tempat sebuah konferensi pers. Pikiran saya sudah tidak tenang. Saya baru saja balik dari penugasan menjadi wartawan di Jakarta. Baru saja sebulan kira-kira kembali ke Surabaya. Lagi membangun kembali jaringan, tiba-tiba turun perintah tadi.
Seperti biasa, kalau ada perintah dari Pak Dahlan, deadline-nya adalah kemarin. Saya hanya berucap dalam hati, kok tega. Nasib baik, dapat narsum yang tepat dan bersedia wawancara.
Begitulah Pak Dahlan. Spontan, disiplin, taktis. Benar-benar sosok keturunan Jawa yang berbeda. Orang Jawa pada umumnya memiliki budaya komunikasi high context dan high power distance.
Biasanya memilih dulu kata yang tepat dan tidak memberikan perintah secara langsung, terutama kepada wartawan yang tergolong baru seperti saya, tetapi melalui perantara. Misalnya, redaktur saya.
Namun, Pak Dahlan berkali-kali kasih perintah langsung ke saya. Dan, level perintah untuk bikin beritanya kerap di luar nalar. Pernah saya diminta wawancara Pak Hermawan Kartajaya karena disuruh Pak Dahlan. Perintahnya, tulisannya harus unik. Sekali lagi, saya bergumam, kok tega!
Pak Hermawan kala itu sangat laris sebagai pembicara dan jarang ada di Surabaya karena keliling terus. Nasib baik, saya dapat bertemu beliau 15 menit setelah menjadi pembicara. Saya mencari info tambahan saat beliau muda dan kuliah pindah-pindah.
Saya bikin drama dalam tulisan bahwa Pak Hermawan yang hebat itu dulu pindah-pindah kampus dan bukan tergolong pengejar nilai. Menulisnya agak takut-takut karena Pak Dahlan bersahabat dengan Pak Hermawan.
Seusai tulisan dimuat, Pak Dahlan mendatangi meja saya sambil membawa koran. Saya pasrah. Ternyata yang terjadi di luar prediksi, ”Wah, tulisanmu bagus. Begini kalau cari angle.” Satu kalimat. Setelah itu, Pak Dahlan pergi. Saya hanya sempat berucap terima kasih.
Momen kok tega itu sering saya alami di masa saya sebentar menjadi wartawan dari akhir 1999 hingga Februari 2002. Semua proses saya ikuti. Menjadi wartawan adalah dream job buat saya yang aktif menjadi wartawan kampus di pers mahasiswa, Indikator, FE, Universitas Brawijaya.
Namun, seperti cinta pada pandangan pertama atau nama kekasih yang tertulis di skripsi, terkadang malah umurnya tidak panjang. Termasuk karier saya sebagai wartawan. Pada 2002 saya mengundurkan diri dari tempat bekerja yang saya cintai.
Meski begitu, kagum dan hormat saya kepada Jawa Pos dan Pak Dahlan Iskan tak pernah luntur. Betapa banyak yang saya pelajari dari Pak Dahlan, walau saya yakin baru secuil, sangat berdampak pada hidup dan karier saya.
Multitasking, disiplin, put all effort, menjadi sosok pembeda, orientasi hasil, tepat waktu, rapat harus efisien, dan selalu coba thinking out of the box.
Pun, setiap saya mengalami kesulitan, muram, dan kehilangan semangat kerja karena melihat ekonomi atau nasib industri yang kelam, kalimat Pak Dahlan selalu menyemangati, ”Kok, mau kondisi ekonomi bagus atau jelek, kita tetap harus kerja keras. Mau 1 dolar setara 10 ribu atau 20 ribu, pilihan kita hanya kerja keras.”
Saat ini kalimat Pak Dahlan mungkin dianggap toxic oleh sebagian masyarakat. Dianggap sebagai bagian dari hustle culture alias kerja keras bagai kuda dengan mengesampingkan hal-hal lain dalam kehidupan. Tapi, bagi saya saat itu sampai detik ini, kalimat-kalimat pendek Pak Dahlan itu membuat saya bangkit berkali-kali.
Gerutuan saya mengenai frasa ”kok tega” berubah menjadi rasa syukur. Tak banyak rasanya CEO perusahaan besar yang memberikan tugas langsung kepada staf, menyemangati, memberikan pujian, dan tentu saja teguran keras jika perlu. Saya sungguh bersyukur.
Hari ini saya begitu kaget dengan status tersangka yang disematkan kepada Pak Dahlan Iskan. Pak Dahlan adalah Jawa Pos, Jawa Pos adalah Pak Dahlan. Tapi, yang terjadi adalah Pak Dahlan dan Jawa Pos saat ini saling gugat dan berujung Pak Dahlan menjadi tersangka.
Saya tak terlalu peduli apa yang terjadi hingga saling gugat. Saya hanya bergumam, kok tega. Pak Dahlan membangun Jawa Pos di era 1980. Menggeser budaya membaca koran sore menjadi pagi, membangun budaya kerja yang kuat dan tentu saja menghasilkan pendapatan yang peningkatannya eksponensial dari tahun 1980 hingga 2000-an.
Apa tak tersisa ingatan saling menghidupi sebegitu lamanya? Apa tak ada sisa rasa sayang dan saling dukung yang sudah berjalan hampir setengah abad sejak Jawa Pos diambil alih, sehingga Pak Dahlan di masa tua harus menghadapi status tersangka?
Kok tega! (*)
Kokok Herdhianto Dirgantoro adalah CEO Opal Communications




