Antisipasi El Nino 2026, Dinas TPH Pesawaran Maksimalkan Insfratruktur dan Peran PPL

DISWAY LAMPUNG.ID – Ancaman fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada 2026 mulai menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan dampak musim kering berpotensi memengaruhi sektor pertanian di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Lampung.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pesawaran bergerak cepat menyiapkan berbagai langkah strategis guna menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional.

Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pesawaran, Hermanto, S.T., M.M., mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG, terutama terkait potensi kemarau panjang yang disebut datang lebih awal dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau melihat paparan BMKG memang cukup mengkhawatirkan. Informasinya, dampak El Nino mulai bergerak dari Pulau Jawa menuju Sumatera, termasuk wilayah Lampung,” ujar Hermanto saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (20/5/2026).

Meski demikian, kondisi pertanian di Kabupaten Pesawaran hingga kini masih relatif aman dan Curah hujan di sejumlah wilayah masih tergolong tinggi sehingga lahan pertanian belum mengalami kekeringan ekstrem.

“Alhamdulillah sampai sekarang hujan masih turun, tetapi kita tetap waspada, terutama memasuki akhir Mei hingga Juni karena kondisi cuaca bisa berubah sewaktu-waktu,” katanya.

Hermanto menjelaskan, pemerintah pusat hingga daerah telah menyiapkan langkah konkret guna meminimalkan dampak El Nino terhadap sektor pertanian.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah percepatan panen melalui optimalisasi penggunaan combine harvester di wilayah sentra produksi pangan.

Selain itu, percepatan masa tanam juga akan dimaksimalkan dengan dukungan alat mesin pertanian seperti traktor roda dua, traktor roda empat, hingga crawler tractor agar proses pengolahan lahan menjadi lebih cepat dan efisien.

“Langkah ini penting supaya petani bisa menyesuaikan pola tanam sebelum musim kemarau benar-benar berlangsung,” jelasnya.

Selanjutnya, untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian saat musim kemarau, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Pesawaran juga akan mengoptimalkan penggunaan pompa air atau alkon, irigasi perpompaan air permukaan, hingga irigasi perpompaan air tanah.

Tak hanya itu, pihaknya turut mengusulkan perbaikan jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier guna memperkuat distribusi air ke area persawahan.

Hermanto menerangkan, irigasi primer merupakan kewenangan pemerintah pusat, sedangkan irigasi sekunder menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Adapun irigasi tersier atau yang dikenal sebagai irigasi cacing berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten.

“Kalau memang kondisi di daerah mendesak dan terkendala anggaran, pemerintah pusat juga bisa langsung turun membantu penanganan,” tambahnya.

Selain penguatan infrastruktur pertanian, pihaknya juga mengoptimalkan peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sebagai ujung tombak pendampingan petani di desa-desa.

Menurut Hermanto, seluruh kebutuhan dan kendala petani akan direkap mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten sebelum diusulkan ke pemerintah provinsi dan pusat.

“PPL menjadi garda terdepan karena mereka yang langsung berhadapan dengan petani,” ungkapnya.

Ia menambahkan, seluruh usulan bantuan pertanian disusun melalui sistem elektronik RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) yang menjadi dasar penyaluran bantuan pupuk subsidi, benih, hingga program pendukung lainnya.

Untuk menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino, pihaknya juga mengusulkan bantuan benih padi berumur pendek dan tahan kekeringan agar produksi pangan tetap terjaga.

Di Kabupaten Pesawaran, luas baku sawah tercatat mencapai sekitar 12 ribu hektare. Sebagian besar sawah tadah hujan berada di wilayah Kecamatan Negeri Katon dan Tegineneng sehingga sangat bergantung pada curah hujan.

“Beberapa wilayah hanya bisa satu kali tanam dalam setahun karena mengandalkan hujan. Setelah itu biasanya ditanami jagung atau hortikultura,” jelasnya.

Hermanto berharap seluruh langkah mitigasi yang telah disiapkan mampu menjaga stabilitas produksi pertanian di Kabupaten Pesawaran sehingga ketahanan pangan daerah tetap terjaga di tengah ancaman perubahan iklim global. (JKO)

Related posts